Nama : Ade Irmayanti
NPM : 10111120
Kelas : 2KA01
Tugas
IV Kepemimpinan
Kepemimpinan Ir.Soekarno
I
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang.
Pesta demokrasi dalam hal pemilihan pemimpin di tiap daerah di era reformasi saat ini sudah sering kita temukan. Mulai dari pemilihan kepala desa, bupati, hingga gubernur terus mewarnai pesta demokrasi bangsa ini. Banyak terbentang spanduk dan baliho sang calon pemimpin daerah dengan janji-janji suci didalamnya. Di media massa juga sering muncul gambar-gambar para calon pemimpin yang tidak lelah mengobral janji dan visi misi. Walaupun dirasakan tidak efektif, namun janji-janji para calon pemimpin masih manjur di telinga rakyat kecil seperti kita.
Masyarakat pada dasarnya merindukan sosok pemimpin yang kharismatik. Sosok yang diharapkan bisa memimpin rakyat menuju kesejahteraan dan juga perubahan. Ibarat pepatah kuno yang menyebutkan bahwa Pemimpin pada hakekatnya “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani”. Konsep yang telah diterapkan oleh pemimpin kharismatik seperti Nabi Muhammad, Mahatma Gandhi, Ir.Soekarno.
2.
Tujuan
Tujuan
Dari penulisan ini adalah terutama untuk memenuhi tugas akhir dari mata kuliah Teori Organisai Umum 1 serta untuk mengetahui pengertian
dari kepemimpinan, apa sajakah tipe-tipe dari teori kepemimpinan itu, serta
gaya apa saja yang ada dalam seorang pemimpi.
II
PEMBAHASAN
1.
Di
setiap komunitas selalu ada pemimpinnya. Peran pemimpin beraneka ragam, di
antaranya adalah sebagai penggerak, motivator, inspirator, penunjuk arah,
menyatukan, pelindung, pengayom, penolong, pembagi kasih sayang, mencukupi
serta mensejahterakan, dan seterusnya. Tugas pemimpin, dengan demikian memang
banyak dan berat. Semua peran itu akan dipertanggung-jawabkan, baik di hadapan
manusia yang dipimpinnya maupun di hadapan Tuhan kelak.
Sebagai penggerak dan motivator, maka
pemimpin harus menjadikan semua orang yang dipimpinnya hidup. Jiwa, pikiran,
dan semangat dari semua orang yang dipimpin menjadi hidup dan berkembang.
Mereka yang sebelumnya berputus asa, tidak percaya diri, dan bahkan juga
apaptis terhadap nasip dan masa depannya berubah mewnjadi percaya diri,
optimis, memiliki harapan dan percaya bahwa nasip mereka akan bisa berubah
menjadi lebih baik. Untuk menggerakkan bagi semua yang dipimpinnya, seorang
pemimpin membutuhkan kemampuan berkomunikasi untuk menyampaikan ide dan atau
gagasannya. Pemimpin harus bertabligh kepada seluruh yang dipimpinnya. Berbeda
dengan dulu, tugas ini sulit dilakukan, maka pada saat sekarang sangat mudah.
Sarana berkomunikasi sudah sedemikian banyak dan canggih. Asalkan memiliki ide
dan gagasan dan juga kemauan, pada setiap saat pemimpin bisa berkomunikasi
dengan semua yang dipimpinnya.
2.
Tipe
Pemimpin Karismatik
Teori kepemimpinan karismatik saat ini sangatlah dipengaruhi
oleh ide-ide ahli sosial yang bernama Max Weber. Karisma adalah kata dalam
bahasa Yunani yang berarti “berkat yang terinspirasi secara agung”, seperti
kemampuan ntuk melakukan keajaiban atau memprediksikan peristiwa masa depan.
Weber (1947) menggunakan istilah itu untuk menjelaskan sebuah bentuk pengaruh
yang bukan didasarkan pada tradisi atau otoritas formal tetapi lebih atas
persepsi pengikut bahwa pemimpin diberkati dengan kualitas yang luar biasa.
Menurut Weber, karisma terjadi saat terdapat sebuah krisis sosial, seorang
pemimpin muncul dengan sebuah visi radikal yang menawarkan sebuah solusi untuk
krisis itu, pemimpin menarik pengikut yang percaya pada visi itu, mereka
mengalami beberapa keberhasilan yang membuat visi itu terlihat dapat dicapai,
dan para pengikut dapat mempercayai bahwa pemimpin itu sebagai orang yang luar
biasa.
Max Weber mendefinisikan kepemimpinan kharismatik sebagai pengabdian diri terhadap kesucian, kepahlawanan tertentu, atau sifat yang patut dicontoh dari seseorang, dan dari corak tata tertib yang diperlihatkan olehnya. Dari pengertian tersebut diinginkan seorang pemimpin yang bisa menjunjung tinggi kejujuran, sikap kepahlawanan, yang diaplikasikan dari kebijakan yang diterapkan. Pemimpin yang kharismatik adalah pemimpin yang dalam kepemimpinanya dipercaya secara penuh oleh masyarakat. Ia mendapat tempat yang istimewa di hadapan masyarakat. Ia dipuja, dicintai, dihormati, dihargai, dan sebagainya. Dalam melaksanakan perintah ia dapat dengan mudah melakukannya karena rakyat telah percaya padanya.
Dalam penafsiran yang lain mengatakan bahwa kepemimpinan kharismatik adalah kepemimpinan yang hanya bersumber dari kharisma. Dimana kharisma diartikan dengan orang yang memiliki keahlian tersendiri yang tidak dimiliki oleh orang lain seperti hal hal gaib dan sebagainya. Memang itu sebagai kelemahan dari kepemimpinan kharismatik. Bahkan kadangkala rakyat yang fanatik akan mengikuti pemimpinnya yang kharismatik walaupun kebijakan yang dibuatnya salah.
2.1
Konsep dari Kepemimpin Karismatik
House (1977) mengusulkan sebuah teori untuk menjelaskan
kepemimpinan karismatik dalam hal sekumpulan usulan yang dapat yang melibatkan
proses yang dapat diamati bukannya cerita rakyat dan mistik. Teori itu
mengenali bagaimana para pemimpin karismatik berperilaku, ciri dan keterampilan
mereka, dan kondisi dimana mereka paling mungkin muncul. Sebuah keterbatasan
dari teori awal adalah ambiguitas tentang proses pengaruh. Shamir et al. (1993)
telah merevisi dan memperluas teori itu dengan menggabungkan perkembangan baru
dalam pemikiran tentang motivasi manusia dan gambaran yang lebih rinci tentang
pengaruh pemimpin pada pengikut. Asumsi berikut telah dilakukan mengenai
motivasi manusia:
1)
perilaku adalah ekspresi dan perasaan seseorang, nilai dan
konsep diri dan juga berorientasi sasaran dan pragmatis
2)
konsep diri seseorang terdiri dari hierarki identitas dan
nilai sosial
3)
orang secara intrinsik termotivasi untuk memperkuat dan
mempertahankan kepercayaan diri dan nilai diri mereka, dan
4)
orang secara intrinsik termotivasi untuk memelihara
konsistensi di antara berbagai komponen dari mereka dan antara konsep diri
mereka dengan perilaku.
2.2
Atribusi dari Kepemimpinan Karismatik
Conger & Kanungo (1987) mengusulkan sebuah teori tentang kepemimpinan karismatik berdasarkan pada asumsi bahwa karisma merupakan sebuah fenomena yang berhubungan (atribusional). Berikutnya, sebuah versi yang dimurnikan dari teori itu disajikan oleh Conger (1989) dan oleh Conger dan Kanungo (1998). Menurut teori itu, atribusi pengikut dari kualitas karismatik bagi seorang pemimpin bersama-sama ditentukan oleh perilaku, keterampilan pemimpinnya dan aspek situasi.
2.3
Karismatik Positif dan Karismatik Negatif
Bagaimana caranya membedakan antara pemimpin karismatik yang
positif dan negatif telah menjadi masalah bagi teori kepemimpinan.tidak selalu
jelas apakah seorang pemimpin tertentu harus digolongkan sebagai karismatik
positif atau negatif. Satu pendekatan adalh dengan menguji konsekuensi bagi
pengikut. Namun, kebanyakan pemimpin karismatik memiliki pengaruh positif dan
negatif pada pengikut, dan mungkin terjadi perselisihan tentang relatif
pentingnya. Terkadang bahkan ada ketidaksesuaian mengenai apakah hasil tertentu
menguntungkan atau mengganggu.
Sebuah pendekatan yang lebih baik untuk membedakan antara karismatik positif dan negatif adalah dalam hal nilai dan kepribadian mereka (House & Howell, 1992; Howell, 1988; Musser, 1987). Karismatik negatif memiliki orientasi kekuasaan secara pribadi. Mereka menekanka identifikasi prbadi daripada internalisasi. Secara sengaja mereka berusaha untuk lebih menanamkan kesetiaan kepada diri mereka sendiri daripada idealisme.
Sebuah pendekatan yang lebih baik untuk membedakan antara karismatik positif dan negatif adalah dalam hal nilai dan kepribadian mereka (House & Howell, 1992; Howell, 1988; Musser, 1987). Karismatik negatif memiliki orientasi kekuasaan secara pribadi. Mereka menekanka identifikasi prbadi daripada internalisasi. Secara sengaja mereka berusaha untuk lebih menanamkan kesetiaan kepada diri mereka sendiri daripada idealisme.
Mereka dapat menggunakan daya tarik ideologis, tetapi hanya
sebagai cara untuk memperoleh kekuasaan, dimana setelahnya ideologi itu
diabaikan atau diubah secara sembarangan sesuai dengan sasaran pribadi pemimpin
itu. Mereka beusaha untuk mendominasi dan menaklukkan pengikut dengan membuat
mereka tetap lemah dan bergantung pada pemimpin. Otoritas untuk membuat
keputusan penting dipusatkan pada pemimpin, penghargaan dan hukuman digunakan
untuk memelihara sebuah citra pemimpin yang tidak dapat brbuat kesalahan atau
untuk membesar-besarkan ancaman eksternal kepada organisasi.
Keputuasan dari para pemimpin ini mencermnkan perhatian yang
lebih besar akan pemujaan diri dan memelihara kekuasaan daripada bagi
kesejahteraan pengikut.
Sebaliknya, karismatik positif memiliki orientasi kekuasaan sosial. Para pemimpin ini menekankan internalisasi dari nilai-nilai bukannya identifikasi pribadi. Mereka berusaha untuk menanamkan kesetiaan kepada diri mereka sendiri. Otoritas didelegasikan hingga batas yang cukup besar, informasi dibagikan secara terbuka, didorongnya partisipasi dalam keputusan, dan penghargaan digunakan untuk menguatkan perilaku yang konsisten dengan misi dan sasaran dari organisasi.
Sebaliknya, karismatik positif memiliki orientasi kekuasaan sosial. Para pemimpin ini menekankan internalisasi dari nilai-nilai bukannya identifikasi pribadi. Mereka berusaha untuk menanamkan kesetiaan kepada diri mereka sendiri. Otoritas didelegasikan hingga batas yang cukup besar, informasi dibagikan secara terbuka, didorongnya partisipasi dalam keputusan, dan penghargaan digunakan untuk menguatkan perilaku yang konsisten dengan misi dan sasaran dari organisasi.
Hasilnya adalah kepemimpinan mereka akan makin menguntungkan
bagi pengikut walaupun konsekuensinya yang mendukung tidak dapat dihindari jika
strategi yang didorong oleh pemimpin tidak tepat.
Konsekuensi negatif yang mungkin terjadi dalam organisasi dipimpin oleh karismatik adalah:
·
Keinginan akan penerimaan oleh pemimpin menghambat kecaman
dari pengikut
·
Pemujaan oleh pengikut menciptakan khayalan akan tidak dapat
berbuat kesalahan
·
Keyakinan dan optimisme berlebihan membutakan pemimpin dari
bahaya nyata
·
Penolakan akan masalah dan kegagalan mengurangi pembelajaran
organisasi
·
Proyek berisiko yang terlalu besar akan besar kemungkinannya
untuk gagal
·
Mengambil pujian sepenuhnya atas keberhasilan akan
mengasingkan beberapa pengikut yang penting
·
Perilaku impulsif yang tidak tradisional menciptakan musuh
dan juga orang-orang yang percaya
·
Ketergantungan pada pemimpin akan menghambat perkembangan
penerus yang kompeten
·
Kegagalan untuk mengembangkan penerus menciptakan krisis
kepemimpinan pada akhirnya Dua kumpulan konsekuensi yang saling terkait
berkomposisi untuk meningkatkan kemungkinan bahwa karier pemimpin akan
terpotong singkat.
Para pemimpin karismatik
cenderung untuk membuat keputusan yang berisiko yang dapat mengakibatkan
kegagalan serius, dan mereka cenderung untuk membuat musuh yang lebih kuat yang
akan menggunakan kegagalan demikian sebagai kesempatan untuk memindahkan
pemimpin dari kantornya.
Para pengikut akan jauh lebih baik bila bersama dengan pemimpin yang karismatik positif daripada dengan pemimpin karismatik negatif. Mereka lebih besar kemungkinannya akan mengalami pertumbuhan psikologis dan perkembangan kemampuan mereka dan organisasi akan lebig dapat beradaptasi terhadap sebuah lingkungan yang dinamis, bermusuhan dan kompetitif. Pemimpin yang karismatik positif biasanya menciptakan sebuah budaya yang “ berorientasi keberhasilan” (Harrison, 1987), “ sistem kinerja tinggi” (Vaill, 1987), atau organisasi yang “dipicu oleh nilai secara langsung” (Peters & Waterman, 1982).
Organisasi jelas telah memahami misi
yang telah mewujudkan nilai-nlai sosial bukan hanya keuntungan atau
pertumbuhan, para anggota dari semua tingkatan diberikan kewenangan untuk
membuat keputusan penting tentang bagaimana menerapkan strategis dan melakukan
pekerjaan mereka, komunikasinya terbuka dan informasi dibagikan, dan struktur
dan sistem organisasi mendukung misinya.
Jika diperpanjang sebagai mode operasi normal, budaya keberhasilan tunggal akan menciptakan tekanan yang berlebihan, dan para anggota yang tidak mampu menoleransi tekanan ini akan mengalami penyimpangan psikologis. Sebuah budaya keberhasilan dalam satu subunit dari organisasi yang besar dapat mengakibatkan sifat elite, isolasi, dan kurangnya kerja sama yang dibutuhkan dengan subunit lainnya. Harrison menyimpulkan bahwa kondisi yang tidak terlalu menuntut, budaya itu harus memiliki keseimbangan yang lebih baik antara masalah tugas dan masalah manusia. Saat ini bangsa Indonesia memang sangat membutuhkan pemimpin yang kharismatik, dan diakui itu amat sulit ditemukan di tanah air yang luas ini. Padahal di era kemerdekaan, dunia pun mengakui bahwa bangsa Indonesia memiliki sosok pemimpin yang berkharisma seperti Ir. Soekarno.
Dr.Ir. Soekarno lahir di Surabaya Jawa Timur, 6 Juni 1901 – meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun .Soekarno adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945–1966. Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan
bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia adalah Proklamator
Kemerdekaan Indonesia
(bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Soekarno adalah yang pertama kali mencetuskan konsep mengenai Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dan ia sendiri yang menamainya.
Pembawaan yang tenang dari
beliau dicerminkan dalam gaya bahasa, tutur kata, dan tutur retorika. Kebijakan
dan pemikiran-pemikiran beliau menunjukkan bahwa presiden pertama Indonesia ini
memiliki intelektualitas yang tinggi, berwibawa, dan memiliki fatsun politik.
Beliau merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, Belanda, memasukkannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Delapan bulan kemudian baru disidangkan.
Dalam pembelaannya berjudul
Indonesia Menggugat, beliau menunjukkan kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku
lebih maju itu. Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada
Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas pada tahun 1931, Soekarno
bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, beliau kembali
ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian
dipindahkan ke Bengkulu.
Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Ir.Soekarno mengemukakan gagasan tentang dasar negara yang disebutnya Pancasila. Tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1945 Ir.Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama.
Sebelumnya, beliau juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan Soekarno berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.
Pemberontakan G-30-S/PKI melahirkan krisis politik hebat yang menyebabkan penolakan MPR atas pertanggungjawabannya. Sebaliknya MPR mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Kesehatannya terus memburuk, yang pada hari Minggu, 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Ia disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jatim di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pemerintah menganugerahkannya sebagai "Pahlawan Proklamasi"
Dalam kancah politik, Soekarno bersama Sutan Sjahrir, Moh. Hatta, atau kawan lainnya tetap menunjukkan etika yang baik, walaupun dalam berdiskusi mengenai politik tak dipungkiri selalu ada perdebatan karena perbedaan ideologi. Terhadap rekan-rekan dalam Dewan Pers, beliau juga tidak menunjukkan sikap dan perilaku kekuasaan atau atasan, namun sikapnya lebih mencerminkan kerekanan.
Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Ir.Soekarno mengemukakan gagasan tentang dasar negara yang disebutnya Pancasila. Tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1945 Ir.Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama.
Sebelumnya, beliau juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan Soekarno berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.
Pemberontakan G-30-S/PKI melahirkan krisis politik hebat yang menyebabkan penolakan MPR atas pertanggungjawabannya. Sebaliknya MPR mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Kesehatannya terus memburuk, yang pada hari Minggu, 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Ia disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jatim di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pemerintah menganugerahkannya sebagai "Pahlawan Proklamasi"
Dalam kancah politik, Soekarno bersama Sutan Sjahrir, Moh. Hatta, atau kawan lainnya tetap menunjukkan etika yang baik, walaupun dalam berdiskusi mengenai politik tak dipungkiri selalu ada perdebatan karena perbedaan ideologi. Terhadap rekan-rekan dalam Dewan Pers, beliau juga tidak menunjukkan sikap dan perilaku kekuasaan atau atasan, namun sikapnya lebih mencerminkan kerekanan.
Oleh karena itu, Soekarno
adalah pribadi yang termasuk paling mempunyai otoritas baik dalam wawasan
maupun dalam gudang pengalaman.
Bung Karno sebagai Icon Nasionalis tidak perlu diragukan lagi, dari barat hingga ke timur negeri ini seolah meng-amini namun sisi lain bung karno sebagai sosok guru bangsa yang juga memiliki sisi - sisi islamis tentu tak banyak orang yang mengetahuinya terlebih di masa kepemimpinannya diwarnai dengan benturan – benturan politik dengan kalangan islamis dan polemik yang menajam seputar dasar negara dengan tokoh paling terkemuka kalangan Islam saat itu, Mr. Mohammad Natsir.
Bung Karno sebagai Icon Nasionalis tidak perlu diragukan lagi, dari barat hingga ke timur negeri ini seolah meng-amini namun sisi lain bung karno sebagai sosok guru bangsa yang juga memiliki sisi - sisi islamis tentu tak banyak orang yang mengetahuinya terlebih di masa kepemimpinannya diwarnai dengan benturan – benturan politik dengan kalangan islamis dan polemik yang menajam seputar dasar negara dengan tokoh paling terkemuka kalangan Islam saat itu, Mr. Mohammad Natsir.
Nama Bung Karno yang dikenal
sebagai Putra Sang Fajar tidak bisa dilepaskan dari tokoh – tokoh Pergerakan
Islam yang Istiqomah berjuang demi cita – cita besar Kemerdekaan Indonesia. Para pakar
sumber daya manusia menemukan bahwa motivasi dan kepuasaan kerja para karyawan
terkait secara langsung dengan hubungan dengan dengan pengawas mereka.
Popularitas dan disertai integritas akan cenderung memudahkan pemimpin dalam
hal pendelegasian tugas. Hal ini pun ditemukan pada sosok Bung Karno, dimana
kharisma beliau mampu menjadi senjata ampuh dan menjadikannya popular dimata
pengikutnya.
Setiap kebijakannya dilaksanakan
oleh para bawahan dengan memegang kepercayaan dari atasannya yang tentu memilik
integritas dan mampu menjalin hubungan yang baik. Bukti dari kepemimpinan karismatik
diberikan oleh hubungan antara pemimpin dengan pengikut. Seperti dalam teori awal
oleh House (1977), seorang pemimpin yang karismatik memiliki pengaruh yang
dalam dan tidak biasa pada pengikut. Para pengikut merasa bahwa keyakinan
pemimpin adalah benar, mereka bersedia mematuhi pemimpin, mereka merasakan
kasih sayang terhadap pemimpin, secara emosional mereka terlibat dalam misi
kelompok atau organisasi, mereka memiliki sasaran kinerja yang tiggi, dan
mereka yakin bahwa mereka dapat berkontribusi terhadap keberhasilan dari misi
itu.
Atribusi dari kemampuan yang
luar biasa kepada pemimpin amatlah mungkin, tetapi sebaliknya dari teori oleh
Conger dan Kanungo (1987), hal ini tidak dianggap sebagai sebuah kondisi yang
diperlukan untuk kepemimpinan karismatik.
3.
Gaya
Kepemimpinan Pemersatu
Ir.Soekarno Adalah bapak
proklamator, seorang orator ulung yang bisa membangkitkan semangat nasionalisme
rakyat Indonesia. Beliau memiliki gaya kepemimpinan yang sangat populis,
bertempramen meledak-ledak, tidak jarang lembut dan menyukai keindahan.
Gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh Ir. Soekarno berorientasi pada moral dan etika ideologi yang mendasari negara atau partai, sehingga sangat konsisten dan sangat fanatik, cocok diterapkan pada era tersebut. Sifat kepemimpinan yang juga menonjol dan Ir. Soekarno adalah percaya diri yang kuat, penuh daya tarik, penuh inisiatif dan inovatif serta kaya akan ide dan gagasan baru. Sehingga pada puncak kepemimpinannya, pernah menjadi panutan dan sumber inspirasi pergerakan kemerdekaan dari bangsa-bangsa Asia dan Afrika serta pergerakan melepas ketergantungan dari negara-negara Barat (Amerika dan Eropa).
Gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh Ir. Soekarno berorientasi pada moral dan etika ideologi yang mendasari negara atau partai, sehingga sangat konsisten dan sangat fanatik, cocok diterapkan pada era tersebut. Sifat kepemimpinan yang juga menonjol dan Ir. Soekarno adalah percaya diri yang kuat, penuh daya tarik, penuh inisiatif dan inovatif serta kaya akan ide dan gagasan baru. Sehingga pada puncak kepemimpinannya, pernah menjadi panutan dan sumber inspirasi pergerakan kemerdekaan dari bangsa-bangsa Asia dan Afrika serta pergerakan melepas ketergantungan dari negara-negara Barat (Amerika dan Eropa).
Berbagai gejolak di tanah air terjadi selama kepemimpinan Presiden Soekarno, akibat dari adanya kebhinekaan dan pluralitas masyarakat Indonesia serta ketidakpuasan memunculkan gerakan-gerakan yang mengarah kepada disintegrasi bangsa melalui pemberontakan-pemberontakan yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), antara lain DI/TII, Permesta dan yang belum terselesaikan sampai dengan saat ini adalah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Gerakan Papua Merdeka (GPM). Ir. Soekarno adalah pemimpin yang kharismatik, memiliki semangat pantang menyerah dan rela berkorban demi persatuan dan kesatuan serta kemerdekaan bangsanya. Namun berdasarkan perjalanan sejarah kepemimpinannya, ciri kepemimpinan yang demikian ternyata mengarah pada figur sentral dan kultus individu. Menjelang akhir kepemimpinannya terjadi tindakan politik yang sangat bertentangan dengan UUD 1945, yaitu mengangkat Ketua MPR (S) juga.
Soekarno termasuk sebagai tokoh nasionalis dan anti-kolonialisme yang pertama, baik di dalam negeri maupun untuk lingkup Asia, meliputi negeri-negeri seperti India, Cina, Vietnam, dan lain-lainnya. Tokoh-tokoh nasionalis anti-kolonialisme seperti inilah pencipta Asia pasca-kolonial. Dalam perjuangannya, mereka harus memiliki visi kemasyarakatan dan visi tentang negara merdeka. Ini khususnya ada dalam dasawarsa l920-an dan 1930-an pada masa kolonialisme kelihatan kokoh secara alamiah dan legal di dunia. Prinsip politik mempersatukan elite gaya Soekarno adalah "alle leden van de familie aan een eet-tafel" (semua anggota keluarga duduk bersama di satu meja makan). Dia memperhatikan asal-usul daerah, suku, golongan, dan juga partai.
4.
Teori Kepemimpinan
Ir.Soekarno
Untuk menggerakkan dan memotivasi orang, pemimpin harus
memiliki visi dan misi yang jelas. Visi
dan misi itu harus dirumuskan menjadi tema-tema yang jelas, jargon, semboyan,
dan bahkan kalau perlu lagu atau nyanyian. Kita ingat, dulu Presiden
Ir.Soekarno pintar sekali membuat kata, kalimat, atau semboyan-semboyan, hingga
menjadikan jiwa rakyatnya hidup. Kalimat-kalimat yang keluar dari presiden
pertama bangsa ini mampu menghidupkan dan juga menggerakkan hati rakyat.
Misalnya, ia mengatakan bahwa bangsa Indonesia bukan bangsa tempe, tidak perlu bantuan
PBB. Semboyan yang berbunyi rawe-rawe rantas, malang-malang putung, mampu
menghidupkan dan menggerakkan semangat, apalagi terhadap anak-anak muda.
Kita pernah memiliki pemimpin yang mampu menggerakkan jiwa
rakyatnya. Dengan cara itu, bangsa ini sekalipun masih miskin tetapi tidak
merasa miskin. Sekalipun masih kecil, belum memiliki banyak universitas, sarana
dan prasarana kehidupan masih ala kadarnya, tetapi sudah merasa besar dan
percaya diri. Sekalipun masih serba berkekurangan tetapi merasa bangga dengan
menjadi bangsa Indonesia. Rakyat merasa merdeka dan bangga dengan
kemerdekaannya itu.
III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Kepemimpinan kharismatik (charismatic leadership): Kharisma diartikan “keadaan atau bakat yang dihubungkan dengan kemampuan yang luar biasa dalam hal kepemimpinan seseorang untuk membangkitkan pemujaan dan rasa kagum dari masyarakat terhadap dirinya” atau atribut kepemimpinan yang didasarkan atas kualitas kepribadian individu.
Pemimpin kharismatik menampilkan ciri-ciri sebagai berikut:
Kepemimpinan kharismatik (charismatic leadership): Kharisma diartikan “keadaan atau bakat yang dihubungkan dengan kemampuan yang luar biasa dalam hal kepemimpinan seseorang untuk membangkitkan pemujaan dan rasa kagum dari masyarakat terhadap dirinya” atau atribut kepemimpinan yang didasarkan atas kualitas kepribadian individu.
Pemimpin kharismatik menampilkan ciri-ciri sebagai berikut:
(a) memiliki visi yang amat kuat atau kesadaran tujuan yang
jelas.
(b) mengkomunikasikan visi itu secara efektif.
(c) mendemontrasikan konsistensi dan fokus
(d) mengetahui kekuatan-kekuatan sendiri dan memanfaatkannya.
Gaya kepemimpinan karismatis dapat terlihat mirip dengan
kepemimpinan transformasional, di mana pemimpin menyuntikkan antusiasme tinggi
pada tim, dan sangat enerjik dalam mendorong untuk maju. Namun demikian,
pemimpin karismatis cenderung lebih percaya pada dirinya sendiri daripada timnya.
Di Indonesia, sosok Soekarno memiliki kharisma di mata para
pengikutnya. Baik dinilai secara positif atau negatif oleh masyarakat, namun
penulis mengakui bahwa di Indonesia masih menjadi barang yang langka untuk
menemukan pemimpin dengan kemampuan seperti beliau.
DAFTAR PUSTAKA
www.wikipedia.com
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/kepemimpinan-17/
http://jacksennainggolan.blogspot.com/2010/06/tugas-kepemimpinan.html