Sabtu, 12 November 2011

KALIMANTAN DAN SUKU DAYAK

Dayak atau Daya (ejaan lama: Dajak atau Dayak adalah kumpulan/federasi dari berbagai subetnis Austronesia yang dianggap sebagai pendatang awa yang mendiami Pulau Kalimantan (Brunei, Malaysia yang terdiri dari Sabah dan Sarawak, serta Indonesia yang terdiri dari Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan). Budaya masyarakat Dayak adalah Budaya Maritim atau bahari. Hampir semua nama sebutan orang Dayak mempunyai arti sebagai sesuatu yang berhubungan dengan "perhuluan" atau sungai, terutama pada nama-nama rumpun dan nama kekeluargaannya. Suku bangsa Dayak terdiri atas enam Stanmenras atau rumpun yakni rumpun Klemantan alias Kalimantan, rumpun Iban, rumpun Apokayan yaitu Dayak Kayan, Kenyah dan Bahau, rumpun Murut, rumpun Ot Danum-Ngaju dan rumpun Punan.

Tradisi Penguburan

Peti kubur di Kutai. Foto tersebut merupakan foto kuburan Dayak Benuaq di Kutai. Peti yang dimaksud adalah Selokng (ditempatkan di Garai). Ini merupakan penguburan primer - tempat mayat melalui Upacara/Ritual Kenyauw. Sementara di sebelahnya (terlihat sepotong) merupakan Tempelaq yang merupakan tempat tulang si meninggal melalui Upacara/Ritual Kwangkay.
Tradisi penguburan dan upacara adat kematian pada suku bangsa Dayak diatur tegas dalam hukum adat. Sistem penguburan beragam sejalan dengan sejarah panjang kedatangan manusia di Kalimantan. Dalam sejarahnya terdapat tiga budaya penguburan di Kalimantan :
  • penguburan tanpa wadah dan tanpa bekal, dengan posisi kerangka dilipat.
  • penguburan di dalam peti batu (dolmen)
  • penguburan dengan wadah kayu, anyaman bambu, atau anyaman tikar. Ini merupakan sistem penguburan yang terakhir berkembang. 
Menurut tradisi Dayak Benuaq baik tempat maupun bentuk penguburan dibedakan :
  1. wadah (peti) mayat bukan peti mati : lungun selokng dan kotak
  2. wadah tulang-beluang : tempelaaq (bertiang 2) dan kererekng (bertiang 1) serta guci.
berdasarkan tempat peletakan wadah (kuburan) Suku Dayak Benuaq :
  1. lubekng (tempat lungun)
  2. garai (tempat lungun, selokng)
  3. gur (lungun)
  4. tempelaaq dan kererekng
Pada umumnya terdapat dua tahapan penguburan:
  1. penguburan tahap pertama (primer)
  2. penguburan tahap kedua (sekunder).
Penguburan primer
  1. Parepm Api (Dayak Benuaq)
  2. Kenyauw (Dayak Benuaq)
Penguburan sekunder
Penguburan sekunder tidak lagi dilakukan di gua. Di hulu Sungai Bahau dan cabang-cabangnya di Kecamatan Pujungan, Malinau, Kalimantan Timur, banyak dijumpai kuburan tempayan-dolmen yang merupakan peninggalan megalitik. Perkembangan terakhir, penguburan dengan menggunakan peti mati (lungun) yang ditempatkan di atas tiang atau dalam bangunan kecil dengan posisi ke arah matahari terbit.
Masyarakat Dayak Ngaju mengenal tiga cara penguburan, yakni :
  • dikubur dalam tanah
  • diletakkan di pohon besar
  • dikremasi dalam upacara tiwah.
Prosesi penguburan sekunder
  1. Tiwah adalah prosesi penguburan sekunder pada penganut Kaharingan, sebagai simbol pelepasan arwah menuju lewu tatau (alam kelanggengan) yang dilaksanakan setahun atau beberapa tahun setelah penguburan pertama di dalam tanah.
  2. Ijambe adalah prosesi penguburan sekunder pada Dayak Maanyan. Belulang dibakar menjadi abu dan ditempatkan dalam satu wadah.
  3. Marabia
  4. Mambatur (Dayak Maanyan)
  5. Kwangkai /Wara (Dayak Benuaq)
UPACARA  ADAT  DAYAK
1.UPACARA MENYANGGAR

Manyanggar adalah sebuah acara adat yang tujuannya doa keselamatan bagi pelaksanaan suatu pekerjaan. Dalam acara ini juga ada acara pengusiran terhadap roh jahat yang berpotensi mengganggu pekerjaan.
Menyanggar bisa di artikan sebagai ritual yang di laksanakan dengan tujuan agar terjadi kehidupan di alam nyata dengan kehidupan di alam gaib.
Ritual dipimpin seorang mantir adat dengan rapalan doa dalam bahasa Dayak Ngaju. Aneka bentuk dan jenis makanan tersaji dalam dua buah tempat yang secara adat disebut samburup.
Ada ayam kampung yang telah dimasak, telur dan ketan, darah ayam, kue cucur, ketupat, minuman beralkohol. Semuanya diletakkan di atas nampan yang digantung sebagai persembahan bagi roh-roh di sekitar lokasi proyek yang mulai dikerjakan.
Upacara ini di lakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap alam kehidupan.

2.UPACARA TIWAH

Adalah upacara yang berhubungan dengan orang yg sudah meninggal,yaitu mengantarkan tulang belulang orang mati menuju rumah kecil yang sengaja di buat untuk meletakan tulang-tulang orang yang sudah meningggal.rumah  ini dinamakan sandung.
Upacara ini bernilai religi yang sangat tinggi,karna banyak doa yang di panjatkan.

3.UPACARA  NYOBENG
Adalah upacara yang di laksanankan untuk orang meninggal juga,namun meninggalnya karna di penggal,jadi upacara nyobeng ini d laksanakan untuk membersihkan tengkorak kepala yang di penggal tersebut.


RUMAH ADAT DAYAK

Rumah adat suku dayak di sebut rumah betang,rumah betang adalah rumah yang di huni lebih dari satu keluarga,itu sebabnya mengapa rumah ini sngat panjang,karena apabila dalam 1 rumah betang ad 50 keluarga jadi bilik yang terdapat d dalam rumah tersebut ada 50 bilik.

Pada bagian depan rumah betang terdapat anak tangga yang berfungsi sebagai jalan masuk,karena rumah betang berbentuk rumah panggung.
Tingginya dari permukaan tanah bisa mencapai  5 meter,hal ini di sengaja untuk menghindari banjir.

Pada bagian belakang rumah betang ini terdaat sebuah ruangan yang di gunakan untuk menyimpan hasil dan alat pertanian.mereka juga memiliki kandang ternak yang tidk terpisah dari rumah betang,ternaknya berupa,babi,sapi dan anjing.ternak tersebut sebagai simbol kekayaan suku.

Rumah betang saat ini mulai tereliminasi dengan adamnya rumah di perkotaan kalimantan serta pengaruh zaman.
Rumah betang ini mencerminkan bahwa suku dayak sangat mengutamakan persaudaraan dan kebersamaan.


    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar