Kamis, 17 April 2014

wajah negaraku


Ibu adalah seorang ratu di rumah, saat kita butuh segala sesuatu, dialah titik tumpunya, saat kita lapar beliaulah koki terhebat.  Saat kita butuh pengajaran, beliaulah guru terhebat.  Saat kita butuh teman, beliau lah teman terbaik. Ibu mengajarkan kita untuk selalu berbuat baik terhadap sesama, saling tolong menolong, mengajarkan sopan santun serta mengenalkan nilai luhur keagamaan dan kebudayaan.
Orangtua berangkat bekerja mulai subuh dan pulang kerumah malam harinya, bahkan beberapa diantaranya ada yang sampai meninggalkan kampung halaman demi mencari sesuap nasi untuk anak-anak yang di cintainya, tak ketinggalan rela meninggalkan tanah air demi mendulang real dan dolar bagi anak dan keluarganya. Hati mulai tersayat mendengar pemberitaan di berbagai media mengenai perlakuan semena-mena majikan mereka di luar negri. Begitu miskinkah negeri yang katanya subur dan makmur, yang disebut sebagai zamrud khatulistiwa, yang katanya bukan lautan tetapi kolam susu. Hal ini membuat setiap orangtua jauh dengan anak-anak dan keluarganya. Menjauhkan mereka dari orang-orang yang butuh belaiannya, limpahan kasih sayang, dongeng dan cerita sebelum anak-anaknya terlelap. Dimanakah perhatian pemerintah untuk para pahlawan devisa negara.
Contoh lain Di kalimantan timur tepatnya di Desa Long, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan. desa yang berbatasan langsung dengan malaysia Merasa tidak mendapat perhatian pemerintah selama bertahun-tahun. Warga desa berulang kali menyampaikan aspirasi, berharap ada tindak lanjut pemerintah. Namun hingga saat ini, belum ada bantuan berarti. Dan Kehidupanpun cenderung memburuk dari hari ke hari. Coba saja cari gambar-gambar tentang desa long di internet,sangat miris sekali.dimana arti kemerdekaan selama ini. bukankah indonesia sudah 66 tahun meredeka.tapi sepertinya warga Desa Long belum pernah menikmati arti kemerdekaan sebenarnya.  Setiap hari mereka harus berjuang keras melalui rute berbahaya selama kurang lebih dua jam.  Semua itu dilakukan untuk sekedar menukar beras dengan bahan pokok lainnya di Bakalalan, Malaysia.  Warga terpaksa menjalaninya karena tak memiliki pilihan lain.  Penderitaan mereka semakin bertambah karena kerap kali pedagang Malaysia memainkan harga secara tak wajar.
Bayangkan saja,bukankah itu adalah beranda indonesia,beranda negeri tercinta kita.tetapi mengapa kehidupan disana seperti itu???penuh tanda tanya.mereka semua adalah rakyat indonesia yang seharusnya di lindungi diberi rasa aman,diberi ketentraman,tetapi apakah mereka semua merasakan hal itu?hidup mereka semua bergantung pada negara tetangga,90 % kebutuhan hidup di dapat dari negara tetangga.betapa mirisnya negri tercinta ini.  Mungkin saja nantinya warga karayan pindah ke negara tetangga  "dengan Alasan, tinggal dan bekerja di Malaysia lebih menjanjikan daripada hidup di Indonesia”.

Semoga dari hal ini pemerintah pusat bisa lebih menjamah lagi beranda negrinya,dan daerah-daerah perbatasan bisa tersentuh oleh pembangunan.

Selasa, 15 April 2014

Fungsi dan Ragam Bahasa Indonesia

1.      Fungsi Bahasa Indonesia
a.      Fungsi Bahasa Indonesia Secara Umum
Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari,
b.      Fungsi Bahasa Indonesia Secara Khusus
1.      Bahasa Nasional
Tanggal 28 Oktober 1928, pada hari “Sumpah Pemuda” lebih tepatnya, Dinyatakan Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional memilki fungsi-fungsi sebagai berikut :
·         Bahasa Indonesia sebagai Identitas Nasional.
Kedudukan pertama dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional dibuktikan dengan digunakannya bahasa indonesia dalam bulir-bilir Sumpah Pemuda. Yang bunyinya sebagai berikut : “Kami poetera dan poeteri Indonesia mengakoe bertoempah darah satoe, Tanah Air Indonesia. Kami poetera dan poeteri Indonesia mengakoe berbangsa satoe, Bangsa Indonesia Kami poetera dan poeteri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, Bahasa Indonesia.”
·         Bahasa Indonesia sebagai Kebanggaan Bangsa.
Kedudukan kedua dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional dibuktikan dengan masih digunakannya Bahasa Indonesia sampai sekarang ini. Berbeda dengan negara-negara lain yang terjajah, mereka harus belajar dan menggunakan bahasa negara persemakmurannya. Contohnya saja India, Malaysia, dll yang harus bisa menggunakan Bahasa Inggris.
·         Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi.
Kedudukan ketiga dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional dibuktikan dengan digunakannya Bahasa Indonesia dalam berbagai macam media komunikasi. Misalnya saja Buku, Koran, Acara pertelevisian, Siaran Radio, Website, dll. Karena Indonesia adalah negara yang memiliki beragam bahasa dan budaya, maka harus ada bahasa pemersatu diantara semua itu. Hal ini juga berkaitan dengan Kedudukan keempat dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional sebagai Alat pemersatu Bangsa yang berbeda Suku, Agama, ras, adat istiadat dan Budaya.
·         Bahasa Indonesia sebagai Alat pemersatu Bangsa yang berbeda Suku, Agama, ras, adat istiadat dan Budaya.
2.      Bahasa Negara
Bahasa Negara adalah bahasa yang digunakan dalam administrasi Negara baik secara lisan maupun tulisan. Posisi bahasa Negara ini dapat dilihat pemakaiannya dalam pemerintahan secara resmi. Penulisan surat kelakuan baik, pembuatan kartu tanda penduduk (KTP) adalah bukti tertulis bahasa Negara dalam pidato resmi Presiden RI di hadapan Sidang DPR/MPR dan pidato kenegaraan lainnya adalah contoh bukti bahasa Negara secara lisan. Dalam aktifitas kenegaraan, bahasa Negara mempunyai empat fungsi, yaitu:
·         bahasa resmi kenegaraan
·         bahasa pengantar resmi di sekolah dan universitas,
·         bahas resmi tingkat nasional dalam kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan Indonesia,
·         bahasa resmi kebudayaan dalam pengembangan kebudayaan, ilmu, teknologi dan komunikasi di Indonesia.
Bahasa resmi Negara ini dikukuhkan dalam UUD 1945, pasal 36 bab XV sehingga telah memainkan perannya dalam kehidupan bernegara.
2.      Ragam Bahasa
Pengertian kata ragam secara umum dalam bahasa Indonesia adalah tingkah, jenis, langgam, corak dan laras. Ragam bahasa diartikan sebagai variasai bahasa menurut pemakaian yang dibedakan menurut topik pembicaraan, sikap penutur, dan media atau sarana yang digunakan. Pengertian ragam bahasa ini memperhatikan situasi yang dihadapi, masalah yang hendak disampaikan, latar belakang pendengar dan pembaca yang dituju, dan media atau sarana yang hendak digunakan.
Sesuai dengan fungsi di atas, tidak mengherankan bila bahasa Indonesia memiliki berbagai ragam bahasa. Berdasarkan tempat atau daerahnya, bahasa Indonesia terdiri dari berbagai dialek, antara lain dialek Jakarta, Jawa, Medan, dan lain-lainnya; berdasarkan penuturnya didapati ragam bahasa golongan cendekiawan dan ragam bahasa golongan bukan cendekiawan; berdasarkan sarananya didapati ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis; berdasarkan bidang penggunaannya didapati ragam bahasa ilmu, ragam bahasa sastra, ragam surat kabar, ragam bahasa undang-undang, dan lain-lainnya dan berdasarkan suasana penggunaannya bahasa Indonesia dapat digolongkan menjadi dua ragam bahasa, yaitu ragam bahasa resmi dan ragam bahasa santai. 
Dari uraian di atas jelaslah bahwa penyebutan bahasa Indonesia ragam ilmu itu berdasarkan bidang penggunaan bahasa. Jika dilihat dari segi penuturnya, ragam bahasa ilmu termasuk ragam bahasa golongan cendekiawan; jika dilihat dari sarananya, ragam bahasa ilmu termasuk ragam bahasa lisan dan termasuk ragam bahasa tulis; jika dilihat dari suasana penggunaanya, jelas bahwa ragam bahasa ilmu termasuk ragam bahasa resmi; dan yang terakhir, bila dilihat dari segi daerah atau tempat penggunaannya, jelas bahwa ragam bahasa ilmu tidak termasuk dalam suatu dialek karena ragam bahasa ini digunakan oleh cerdik pandai dari seluruh pelosok tanah air. 
Dengan demikian, ragam bahasa ilmu dapat dijelaskan sebagai suatu ragam bahasa yang tidak termasuk suatu dialek, yang dalam suasana resmi, baik secara tertulis maupun lisan digunakan oleh para cendekiawan untuk mengkomunikasikan ilmu pengetahuannya.

a.      Dasar-dasar Ragam Bahasa
Pada ragam bahasa yang paling pokok adalah seseorang itu menguasai atau mengetahui kaidah-kaidah yang ada dalam bahasa. Kerena kaidah bahasa dianggap sudah diketahui, uraian dasar-dasar ragam bahasa itu diamati melalui skala perbandingan bagian persamaan bagian perbedaan. Dasar-dasar ragam bahasa yang akan diperbandingkan itu didasarkan atas sarana ragam bahasa lisan dan ragam tulisan.
b.      Jenis- jenis Ragam Bahasa
1.      Ragam Bahasa Berdasarkan Tempat
·         Ragam Dialek
Ragam dialek adalah ragam bahasa yang dipengaruhi oleh bahasa daerah si pembicara atau ragam bahasa daerah yang ditandai oleh daerah atau kota.
2.      Ragam Bahasa Berdasarkan Sarana
·         Ragam Lisan
Ragam lisan adalah ragam bahasa yang diungkapkan dengan sarana lisan yang ditandai oleh pengulangan intonasi, spontanitas sehingga criteria kejelasan ketepatan dan kelugasan terpenuhi oleh si penutur.
·         Ragam Tulisan
Ragam tulisan adalah variasi bahasa yang digunakan melalui sarana tulisan dan dapat diperkuat atau didukung oleh sarana visual untuk mencapai sasaran.
3.      Ragam Bahasa Berdasarkan Penutur
·         Ragam bahasa berdasarkan pendidikan penutur
Bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur yang berpendidikan berbeda dengan yang tidak berpendidikan, terutama dalam pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, misalnya fitnah, kompleks,vitamin, video, film, fakultas. Penutur yang tidak berpendidikan mungkin akan mengucapkan pitnah, komplek, pitamin, pideo, pilm, pakultas.
·         Ragam bahasa berdasarkan sikap penutur
Ragam bahasa dipengaruhi juga oleh setiap penutur terhadap kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembawa (jika dituliskan) sikap itu antara lain resmi, akrab, dan santai. Kedudukan kawan bicara atau pembaca terhadap penutur atau penulis juga mempengaruhi sikap tersebut. Misalnya, kita dapat mengamati bahasa seorang bawahan atau petugas ketika melapor kepada atasannya. Jika terdapat jarak antara penutur dan kawan bicara atau penulis dan pembaca, akan digunakan ragam bahasa resmi atau bahasa baku. Makin formal jarak penutur dan kawan bicara akan makin resmi dan makin tinggi tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan.
4.      Ragam Bahasa Berdasarkan Situasi
·         Ragam Baku
Ragam baku adalah ragam bahasa yang dipakai dalam forum resmi. Ragam ini bisa juga disebut ragam resmi.
·         Ragam Tidak Baku
Ragam tidak baku adalah ragam bahasa yang menyalahi kaidah-kaidah yang terdapat dalam bahasa baku.
5.      Ragam Bahasa Berdasarkan Bidang
·         Ragam Ilmu dan Teknologi
Ragam ilmu dan teknologi adalah ragam bahasa yang digunakan dalam bidang keilmuan dan teknologi.
·         Ragam Sastra
Ragam satra adalah ragam bahasa yang bertujuan untuk memperoleh kepuasan estetis dengan cara penggunaan pilih jata secara cermat dengan gramatikal dan stilistil tertentu.
·         Ragam Niaga
Ragam niaga adalah ragam bahasa yang digunakan untuk menarik pihak konsumen agar dapat melakuakan tindak lanjut dalam kerjasam

Daftar Pustaka :



Rabu, 19 Maret 2014

Pramuka Sebagai Organisasi Pembentuk Karakter Kaum Muda

"Berikan aku 1000 anak muda maka aku akan memindahkan gunung tapi berikan aku 10 pemuda yg cinta akan tanah air maka aku akan menguncang dunia." (Bung Karno)

Itulah salah satu kutipan dari pidato Bung Karno yang maknanya terkait strategi Bung Karno terhadap generasi muda dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemuda adalah sosok individu yang kuat, gesit, tahan uji, dan memiliki semangat menggelora. Di tangan pemuda tangguh negara pun bakal kuat. Sebaliknya, bilamana generasi muda loyo negara pun bakal rapuh. Oleh karenanya, pendidikan dan pembinaan generasi muda amatlah strategis. Karena di tangan generasi mudalah kelangsungan negara dipertaruhkan.

Metode pendidikan kepramukaan yang disesuaikan kelompok umur pada hakikatnya merupakan pola pembinaan generasi muda secara berjenjang dan berkesinambungan untuk menghasilkan produk berkualitas. Gerakan pramuka dalam melaksanakan fungsinya sebagai wadah pembinaan dan pengembangan generasi muda Indonesia mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kepramukaan bagi kaum muda guna menumbuhkan tunas bangsa agar menjadi generasi yang lebih baik, bertanggung jawab, mampu mengisi kemerdekaan nasional dan membangun dunia yang lebih baik.

Gerakan Pramuka sebagai organisasi adalah gerakan yang nasional untuk seluruh bangsa ita di seluruh Tanah Air kita, untuk menghasilkan kader-kader pembangun yang cakap dan bersemangat bagi penyelenggaraan Amanat Penderitaan Rakyat Indonesia seluruhnya.

Generasi muda yang tergabung dalam wadah kepramukaan penerus perjuangan bangsa, dan mereka lebih banyak menimba pengalaman-pengalaman melalui perkemahan-perkemahan, menelusuri daerah-daerah yang merupakan tanah tempat dan sumber kehidupan bagi seluruh masyarakat secara nasional.
Serangkaian dengan hal itu pebinaan melalui wadah kepramukaan akan lebih bermanfaat bagi kepentingan bangsa, karena didalamnya diajarkan berbagai langkah-langkah kemanusiaan dan bergotong-royong serta diuji ketabahan mental.
Generasi pramuka di Indonesia hampir telah menyebar kepelosok-pelosok tanah air dan tercatat memiliki kurag lebih Tujuh juta anggota.

Pembentukan karakter pemuda melalui kepramukaan sudah lama dituangkan dalam Dasa Darma Pramuka, yaitu Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; Cinta alam, kasih sayang sesama manusia; Patriot yang sopan dan ksatria; Patuh dan suka bermusyawarah; Rela menolong dan tabah; Rajin, terampil, dan gembira; Hemat, cermat, dan bersahaja; Disiplin, berani dan setia; Bertanggungjawab dan dapat dipercaya; Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Dari Dasa Darma Pramuka dari di atas, artinya pendidikan karakter yang mampu menciptakan karakter pemuda bangsa sudah ada dalam kepramukaan. Artinya, Pramuka telah mengajarkan pendidikan karakter sejak berdirinya kepanduan ini, jauh sebelum isu pendidikan karakter marak di Indonesia.

            Untuk para anggota pramuka ingatlah pesan dari presiden pertama RI yang berbunyi :
“Berusahalah sehebat-hebatnya untuk mengembangkan dan meluaskan Gerakan kita, sampai pada suatu ketika, setiap anak dan pemuda serta pemudi kita, baik yang mahasiswa di kota maupun di yang penggembala kerbau di desa, dengan rasa bangga dan terhormat dapat menyatakan Aku Pramuka Indonesia.
Intersifkan pendidikan setiap pramuka, supaya setiap pramuka menjadi satu manifestasi daripada tujuan Gerakan kita seperti yang tersebut dalam Anggaran Dasar Gerakan kita.
Arahkan pandanganmu ke bintang Tujuan Bangsa kita dan jalanlah maju dalam barisan Gerakan Pramuka dengan derap langkah yang tetap dan sama, sambil memijak segala kerikil kesukaran yang kecil-kecil dan melangkahi atau melalui atau kalau perlu menggempur segala batu rintangan yang besar.”


Minggu, 09 Februari 2014

contoh proposal

HALAMAN PERSETUJUAN

Nama kegiatan                 :SEMINAR HOW TO GET SCHOLARSHIP?
(ScholarshipSeeded To Improve Human ResourceIn Indonesia Economy)
Jenis kegiatan                   :  Inisiatif
Pembicara                        :  Dr. AB Susanto M.Sc
(Kordinator Biro PKLN,Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan)
Tanggal pengajuan          :  24 September 2012
Tanggal kegiatan             :  16 Oktober 2012
   Penyelenggara                  :  BEM Fakultas Ekonomi Universitas               
                                              Gunadarma
Ketua pelaksana               :  Intan Vantimi
No. telepon/Hp                :  085768980385
Dana yang disetujui         :

Pembantu Dekan III
Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma



( BUDI PRIJANTO, SE., MMSi )


PROPOSAL
Seminar “How To Get Scholarship?”
BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA


I.        PENDAHULUAN
Semua orang berharap dirinya bisa sekolah setinggi-tingginya. Banyak diantara mereka ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih dan menerima pendidikan yang bagus. Tapi kebanyakan juga dari mereka tidak memiliki biaya, kekurangan informasi, bahkan acuh dan tidak melanjutkan mimpinya untuk bisa menerima pendidikan yang lebih baik. Melihat SDM indonesia saat ini untuk mendapatkan fasilitas pendidikan sangat susah terutama masyarakat yang tidak mampu tapi memiliki kemampuan dan ilmu  yang bisa membanggakan indonesia ,tapi terkadang cuma di pandang sebelah mata oleh kekuasaan uang , dengan adanya beasiswa yang di janjikan oleh pemerintah bagi anak-anak yang berbakat di bidangnya  dan kurang mampu , ada beberapa program pemerintah yang di tawarkan seperti : Bidik Misi , siswa unggulan program sarjana , beasiswa unggulan program magister,dan masih banyak lagi. Tapi selalu di hadapkan kepada sistem yang berbelit,Jati diri bangsa sangat ditentukan oleh kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada, sehingga diperlukan kader terbaik bangsa yang memiliki kecerdasan tinggi, sikap dan mental prima, daya juang dan daya saing tinggi, kemampuan yang andal serta nasionalisme sejati. Untuk mewujudkan hal itu diperlukan suatu Visi Pendidikan Nasional yang terarah dan tersusun dalam dokumen resmi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).
Usaha mencapai Visi 2025 tersebut dibagi menjadi empat tema pembangunan pendidikan nasional seperti dijelaskan dalam Restra Kementerian Pendidikan Nasional. Tema pembangunan yang kedua (2010-2014) difokuskan pada penguatan layanan pendidikan. Sejalan dengan fokus tersebut, Visi Kemdiknas 2014 adalah terselenggaranya layanan prima pendidikan nasional untuk membentuk insan Indonesia cerdas komprehensif. Yang dimaksud dengan layanan prima pendidikan nasional adalah layanan pendidikan yang:tersedia secara merata di seluruh pelosok nusantara;terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat;berkualitas/bermutu dan relevandengan kebutuhan kehidupan bermasyarakat, dunia usaha, dan dunia industri;setarabagi warga negara Indonesia dalam memperoleh pendidikan berkualitas dengan memperhatikan keberagaman latar belakang sosial-budaya, ekonomi, geografi, gender, dan sebagainya; danmenjamin kepastianbagi warga negara Indonesia mengenyam pendidikan dan menyesuaikan diri dengan tuntutan masyarakat, dunia usaha, dan dunia industri.
Hanya sedikit dari mereka tahu beasiswa. Tapi kebanyakan mereka tidak tahu bagaimana cara mendapatkan beasiswa, informasi seputar beasiswa dan pihak atau lembaga apa yang harus diketahui ketika ingin mendapatkan beasiswa. Beasiswa bukan hanya didapat dari lembaga pendidikan. Tapi juga bisa diperoleh oleh lembaga-lembaga atau institusi pemerintah maupun swasta yang menyelenggarakan program beasiswa. Karena itu, kami sangat ingin mewujudkan sebuah acara yang bisa membahas informasi seputar beasiswa. Yaitu seminar “How To Get Scholarship?” seminar ini berisi tentang bagaimana mendapatkan beasiswa. Seminar ini sangat bermanfaat dan membantu para mahasiswa yang ingin tahu seputar beasiswa dan bagaimana cara mendapatkan beasiswa dalam negeri maupun luar negeri. Seminar ini nantinya akan disusun se efisien mungkin dengan pembicara yang menarik dengan presentasi yang unik dan tidak membosankan.
II.     NAMA KEGIATAN
Seminar ”How To Get Scholarship?”

III.   TEMA KEGIATAN
ScholarshipSeeded To Improve Human ResourceIn Indonesia Economy

IV.  LANDASAN KEGIATAN
1.    Tri Dharma Perguruan Tinggi
2.    Program Kerja Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomiperiode 2021-2013.
V.  TUJUAN KEGIATAN
1.    Menjalankan Program Kerja Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dari bidang Pendidikan dan bidang Humas 2012-2013
2.    Memberikan informasi seputar beasiswa secara detail kepada mahasiswa.
3.    Membantu para mahasiswa yang ingin mengetahui syarat apa saja yang harus dimiliki ketika ingin meperoleh beasiswa.
4.    Pemberian wawasan tentang beasiswa yang bertujuan meningkatkan pengetahuan tentang beasiswa pendidikan di Indonesia dan International.
5.    Wadah diskusi mahasiswa dengan pembicara.
6.    Meningkatkan kemampuan dan kompetensi SDM Indonesia yang mendukung percepatan pembangunan NKRI.

VI.  BENTUK KEGIATAN

§  Seminar
Kegiatan ini dilaksanakan dengan bentuk acara bertajuk sharing wawasan dan pengalaman antara pembicara dan para audience sehingga tercipta komunikasi interaktif dalam acara tersebut.Dimana pembicara akan memberikan materi terlebih dahulu kemudian diberikan waktu untuk para auidience untuk bertanya seputar beasiswa.

VII.          WAKTU DAN TEMPAT KEGIATAN
  • Hari / Tanggal             : Selasa, 16 Oktober 2012
  • Pukul                           : 08.00 WIB  s/d  12.00 WIB
  • Tempat                        : Aditorium kampus D 460 Universitas Gunadarma

VIII.       SASARAN KEGIATAN
Sasaran dari kegiatan ini adalah seluruh rekan-rekan Mahasiswa semua Fakultas Universitas Gunadarma sebanyak 400 orang.


IX.  JADWAL KERJA PANITIA


II.  SUSUNAN ACARA
Senin, 16 Oktober 2012
05.00 s/d 06.00 WIB  : Briefing panitia
06.00 s/d 07.00 WIB  : Persiapan menjelang acara seminar
07.00  s/d 08.30 WIB : Registrasi peserta seminar
08.30 s/d 08.40 WIB  : Opening dengan tarian daerah (TEMA)
08.40 s/d 09.00 WIB  : Sambutan-sambutan
08.40 s/d 08.50 WIB              -  Ketua Pelaksana
08.50 s/d 09.00 WIB              -  Presiden BEMFE UG
09.00 s/d 09.10 WIB              -  Pembantu Dekan III FE UG
09.10 s/d 11.20 WIB  : Acara inti dan pemberian materi oleh narasumber
11.20 s/d 11.40 WIB : Sesi tanya jawab antara narasumber dan audiens
            11.40 s/d 11.50 WIB  : Penyerahan plakat kepada narasumber
11.50 s/d 12.00 WIB : Penutupan


II.  PENUTUP
Demikianlah proposal Seminar ”How To Get Scholarship?” yang diberi tema ScholarshipSeeded To Improve Human Resource in Indonesia EconomyKegiatan ini dibuat dengan harapan dapat disetujui dan ditindak lanjuti secara positif dalam bentuk dukungan dan bantuan dana oleh pihak Universitas Gunadarma.
Dengan segala kerendahan hati, kami selaku pengurus Badan EksekutifMahasiswa Fakultas Ekonomi dan Panitia Pelaksana Kegiatan mengucapkan terima kasih.

                                                                                                   Hormat kami,

   Depok,  September 2012

Ketua Pelaksana                                                                                   Sekretaris


   Intan Vantimi                                                                           Rena Nurul Ummah
 ( 23211638)                                                                                     ( 25211945 )

Mengetahui,
Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi

Sumber :
BEM Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma

Minggu, 26 Januari 2014

Konvensi Naskah

Pengertian Konvensi Naskah Karya Ilmiah
Konvensi naskah karya ilmiah adalah peraturan atau aturan yang telah disepakati bersama oleh suatu lembaga tertentu atau beberapa lembaga yang menyangkut seperangkat cara dan bahan yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah. Misalnya, laporan penelitian, skripsi, tesis, dll.
Bagian-bagian karya ilmiah dan pengertiannya
Bagian-bagian karangan ilmiah meliputi hal berikut :
·         Bagian Pelengkap Pendahuluan
Kelengkapan awal ini terdiri dari :
kulit luar (cover), halaman judul, halaman pengesahan, halaman penerimaan, halaman persembahan, abstrak, kata pengantar, daftar table, daftar grafik atau daftar gambar (jika ada), daftar singkatan dan lambang dan daftar lampiran.

·         Bagian Kelengkapan Isi Karangan
Kelengkapan isi meliputi :
pendahuluan, tubuh karangan yang meliputi kajian teori, seputar lokasi objek penelitian, pembahasan, dan yang terakhir berupa kesimpulan (penutup).

·         Bagian Pelengkap Penutup
Kelengkapan akhir meliputi :
daftar pustaka, lampiran data, penulisan indeks, dan riwayat hidup.


Bagian Pelengkap Pendahuluan
1.       Halaman Judul
Halaman judul pendahulaun tidak mengandung apa-apa kecuali mencantumkan judul karangan atau judul buku. Judul karangan atau judul buku ditulis dengan huruf capital. Biasanya terletak di tengah halaman hanya saja berada di posisi sedikit ke atas.
Dalam pembuatan sebuah makalah atau skripsi, halaman judul mencantumkan nama karangan, penjelasan adanya tugas, nama pengarang (penyusun),  kelengkapan identitas pengarang (nomor induk / registrasi, kelas, nomor absen), nama unit studi, nama lembaga (jurusan, fakultas, universitas), nama kota, dan tahun penulisan.

Untuk memberikan daya tarik pembaca, penyusunan judul perlu memperhatikan unsur-unsur sebagai berikut:
a.       Judul menggambarkan keseluruhan isi karangan.
b.      Judul harus menarik pembaca baik makna maupun penulisannya.
c.       Sampul: nama karangan, penulis, dan penerbit.
d.      Halaman judul: nama karangan, penjelasan adanya tugas, penulis, kelengkapan identitas pengarang nama unit studi, nama lembaga, nama kota, dan tahun penulisan (dalam pembuatan makalah atau skripsi).
e.      Seluruh frasa ditulis pada posisi tengah secara simetri (untuk karangan formal), atau model lurus pada margin kiri (untuk karangan yang tidak terlalu formal).

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan makalah atau skripsi pada halaman judul:
v  Judul diketik dengan huruf  kapital, misalnya:
UPAYA MENGATASI KEMISKINAN PADA
MASYARAKAT PEMUKIMAN KUMUH
DI KELURAHAN JATINEGARA JAKARTA TIMUR
v  Penjelasan tentang tugas disusun dalam bentuk kalimat, misalnya:
Makalah ini Disusun untuk Melengkapi Ujian Akhir
Mata Kuliah Bahasa Indonesia Semester Ganjil 2009
Atau
Skripsi ini Diajukan untuk Melengkapi Ujian Sarjana Ekonomi pada
Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma
v  Nama penulis ditulis dengan huruf kapital, di bawah nama dituliskan Nomor Induk Mahasiswa (NIM), misalnya:
ANASTASIA INDRIANI
10709234
v  Logo universitas untuk makalah, skripsi, tesis, dan disertasi; makalah ilmiah tidak diharuskan menggunakan logo.

v  Data institusi mahasiswa mencantumkan program studi, jurusan, fakultas, unversitas, nama kota, dan tahun ditulis dengan huruf kapital, misalnya:
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA
JAKARTA
2008

Hal-hal yang harus dihindarkan dalam halaman judul karangan formal:
v  Komposisi tidak menarik.
v  Tidak estetik.
v  Hiasan gambar tidak relevan.
v  Variasi huruf jenis huruf.
v  Kata “ditulis (disusun) oleh.”
v  Kata “NIM/NRP.”
v  Hiasan, tanda-tanda, atau garis yang tidak berfungsi.
v  Kata-kata yang berisi slogan.
v  Ungkapan emosional.
v  Menuliskan kata-kata atau kalimat yang tidak berfungsi.


2.       Halaman Pengesahan
Halaman pengesahan digunakan sebagai pembuktian bahwa karya ilmiah yang telah ditanda-tangani oleh pembimbing, pembaca /penguji, dan ketua jurusan telah memenuhi persyaratan administrative sebagai karya ilmiah. Halaman pengesahan biasanya digunakan untuk penulisan skripsi, tesis, dan disertasi, sedangkan makalah ilmiah, dan karangan lainnya (baik fiksi maupun non-fiksi) tidak mengharuskan adanya halaman pengesahan. Penyusunan pengesahan ditulis dengan memperhatikan persyaratan formal urutan dan tata letak unsur-unsur yang harus tertulis di dalamnya.
Judul skripsi ditulis dengan huruf capital pada posisi tengah antara margin kiri dan kanan. Nama lengkap termasuk gelar akademis pembimbing materi / teknis, pembaca / penguji, dan ketua program jurusan ditulis secara benar dan disusun secara simetri kiri-kanan dan atas-bawah. Skripsi diajukan kepada siding penguji akademis setelah disetujui oleh pembimbing dan pembaca / penguji. Penulis skripsi dinyatakan lulus jika skripsinya telah diuji di hadapan siding terbuka / tertutup dan telah ditanda-tangani oleh semua nama yang tercantum dalam halaman pengesahan. Nama kota dan tanggal pengesahan ditulis di atas kata ketua jurusan.

3.       Halaman Persembahan
Bagian ini tidak terlalu penting. Bila penulis ingin memasukkan bagian ini, maka hal itu semata-mata dibuat atas pertimbangan penulis. Persembahan ini jarang melebihi satu halaman, dan biasanya terdiri dari beberapa kata saja. Bila penulis menganggap perlu memasukkan persembahan ini, maka persembahan ini dapat ditempatkan berhadapan dengan halaman belakang judul buku, atau berhadapan dengan halaman belakang cover buku atau juga menyatu dengan halaman judul buku.

4.       Kata Pengantar
Kata pengantar berfungsi sama dengan sebuah surat pengantar. Kata pengantar adalah bagian karangan yang berisi penjelasan tentang alasan penulis menulis karangan tersebut. Setiap karangan ilmiah seperti : buku, skripsi, thesis, disertasi, makalah, atau laporan formal ilmiah harus menggunakan kata pengantar.
Kata pengantar merupakan bagian dari keseluruhan karya ilmiah. Sifatnya formal dan ilmiah. Oleh karena itu, kata pengantar harus ditulis dengan Bahasa Indonesia yang baku, baik, dan benar. Isi kata pengantar tidak menyajikan isi karangan atau hal-hal lain yang tertulis dalam pendahuluan, tubuh karangan, dan kesimpulan. Sebaliknya, apa yang sudah ditulis dalam kata pengantar tidak ditulis ulang dalam isi karangan.

Didalam kata pengantar disajikan informasi sebagai berikut :
·         Ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
·         Penjelasan adanya tugas penulisan karya ilmiah.
·         Penjelasan pelaksanaan penulisan karya ilmiah
·         Penjelasan adanya bantuan, bimbingan dan arahan dari seseorang, sekelompok orang, atau organisasi/lembaga.
·         Penyebutan nama kota, tanggal, bulan, tahun, dan nama lengkap penulis tanpa dibubuhi tanda-tangan.
·         Harapan penulis atas karangan tersebut.
·         Manfaat bagi pembaca serta kesediaan menerima kritik dan saran.
5.        Abstrak
Adalah sebuah paragraph yang mencakup atau ringkasan awal dari sebuah laporan atau tulisan sebuah laporan atau tulisan ilmiah. Menurut American National Standarts Institute (1979), definisi abstrak adalah representasi dari isi dokumen yang singkat dan tepat. Sedangkan menurut definisi umum, abstrak merupakan bentuk ringkasan dari isi suatu dokumen yang terdiri atas bagian-bagian penting dari suatu tulisan, dan mendeskripsikan isi dan cakupan dari tulisan. Abstrak berfungsi untuk menjelaskan secara singkat kepada pembaca tentang apa yang terdapat dalam suatu tulisan. Pada umumnya abstrak diletakkan pada bagian awal sebelum bab-bab penguraian.

6.       Daftar Isi
Daftar isi adalah bagian pelengkap pendahuluan yang memuat garis besar isi karangan ilmiah secara lengkap dan menyeluruh dari judul sampai dengan riwayat hidup penulis sebagaimana lazimnya sebuah konvensi naskah karangan. Daftar isi berfungsi untuk merujuk nomor halaman judul bab, sub-bab, dan unsur-unsur pelengkap dari sebuah buku yang bersangkutan.

7.       Daftar Gambar
Bila dalam buku itu terdapat gambar-gambar, maka setiap gambar yang tercantum dalam karangan harus tertulis didalam daftar gambar. Daftar gambar menginformasikan tentang judul gambar dan nomor halaman.

8.       Daftar Tabel
Sama seperti daftar gambar, daftar table ini dibuat hanya ketika terdapat table-tabel di dalam buku tersebut. Daftar table ini menginformasikan tentang nama table dan nomor halaman.

9.       Daftar Lampiran
Daftar lampiran berisi tentang nama data yang terlampir dan halaman. biasanya di setiap karangan karya ilmiah / tugas akhir dan sebagainya ada lampiran yang diperlukan.


Bagian  kelengkapan Isi Karangan
1.       Pendahuluan
Pendahuluan adalah bab I karangan. Pendahuluan bertujuan menarik perhatian pembaca, dengan menginfokan masalah apa yang akan dibahas dari bab awal hingga akhir. Pendahuluan terdiri dari latar belakang, masalah, tujuan pembahasan, pembatasan masalah, landasan teori, dan metode pembahasan.
Untuk menulis pendahuluan yang baik, penulis perlu memperhatikan pokok-pokok yang harus tertuang dalam masing-masing unsur pendahuluan sebagai berikut:
a.       Latar belakang masalah, menyajikan:
v  Penalaran (alasan) yang menimbulkan masalah atau pertanyaan yang akan diuraikan jawabannya dalam bab pertengahan antara pendahuluan dan kesimpulan dan dijawab atau ditegaskan dalam kesimpulan. Untuk itu, arah penalaran harus jelas, misalnya deduktif, sebab-akibat, atau induktif.
v  Kegunaan praktis hasil analisis, misalnya: memberikan masukan bagi kebijakan pimpinan dalam membuat keputusan, memberikan acuan bagi pengembangan sistem kerja yang akan datang.
v  Pengetahuan tentang studi kepustakaan, gunakan informasi mutakhir dari buku-buku ilmiah, jurnal, atau internet yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Penulis hendaklah mengupayakan penggunaan buku-buku terbaru.
v  Pengungkapan masalah utama secara jelas dalam bentuk pertanyaan, gunakan kata tanya yang menuntut adanya analisis, misalnya: bagaimana...., mengapa.....
v  Tidak menggunakan kata apa karena tidak menuntut adanya analisis, cukup dijawab dengan ya atau tidak.

b.      Tujuan penulisan berisi:
v  Target, sasaran, atau upaya yang hendak dicapai, misalnya: mendeskripsikan hubungan X terhadap Y; membuktikan bahwa budaya tradisi dapat dilestarikan dengan kreativitas baru; menguraikan pengaruh X terhadap Y.
v  Upaya pokok yang harus dilakukan, misalnya: mendeskripsikan data primer tentang kualitas budaya tradisi penduduk asli Jakarta; membuktikan bahwa pembangunan lingkungan pemukiman kumuh yang tidak layak huni memerlukan bantuan pemerintah.
v  Tujuan utama dapat dirinci menjadi beberapa tujuan sesuai dengan masalah yang akan dibahas. Jika masalah utama dirinci menjadi dua, tujuan juga dirinci menjadi dua.

c.       Ruang lingkup masalah berisi:
v  Pembatasan masalah yang akan dibahas.
v  Rumusan detail masalah yang akan dibahas.
v  Definisi atau batasan pengertian istilah yang tertuang dalam setiap variabel. Pendefinisian merupakan suatu usaha yang sengaja dilakukan untuk mengungkapkan suatu benda, konsep, proses, aktivitas, peristiwa, dan sebagainya dengan kata-kata.[4]
 
d.       Landasan teori menyajikan:
v  Deskripsi atau kajian teoritik variabel X tentang prinsip-prinsip teori, pendapat ahli dan pendapat umum, hukum, dalil, atau opini yang digunakan sebagai landasan pemikiran kerangka kerja penelitian dan penulisan sampai dengan kesimpulan atau rekomendasi.
v  Penjelasan hubungan teori dengan kerangka berpikir dalam mengembangkan konsep penulisan, penalaran, atau alasan menggunakan teori tersebut.
e.      Sumber data penulisan berisi:
v  Sumber data sekunder dan data primer.
v  Kriteria penentuan jumlah data.
v  Kriteria penentuan mutu data.
v  Kriteria penentuan sample.
v  Kesesuaian data dengan sifat dan tujuan pembahasan.

f.         Metode dan teknik penulisan berisi:
v  Penjelasan metode yang digunakan dalam pembahasan, misalnya: metode kuantitatif, metode deskripsi, metode komparatif, metode korelasi, metode eksploratif, atau metode eksperimental.
v  Teknik penulisan menyajikan cara pengumpulan data seperti wawancara, observasi, dan kuisioner; analisis data, hasil analisis data, dan kesimpulan.

g.       Sistematika penulisan berisi:
v  Gambaran singkat penyajian isi pendahuluan, pembahasan utama, dan kesimpulan.
v  Penjelasan lambang-lambang, simbol-simbol, atau kode (kalau ada).


2.       Tubuh karangan
Tubuh karangan atau bagian utama karangan merupakan inti dari suatu karangan yang berisi sajian pembahasan masalah. Bagian ini menguraikan seluruh masalah yang dirumuskan pada pendahuluan secara tuntas (sempurna). Disilah terletak segala yang akan dibahas secara sistematis.Kesempurnaan pembahasan diukur berdasarkan kelengkapan unsur-unsur berikut ini:
1.      Ketuntasan materi
Materi yang dibahas mencakup seluruh variabel yang tertulis pada kalimat tesis, baik pembahasan yang berupa data sekunder (kajian teoretik) maupun data primer.
2.       Kejelasan uraian/deskripsi
yang terbagi tiga yaitu :
o    Kejelasan konsep
o    Kejelasan bahasa
o    Kejelasan penyajian dan fakta kebenaran fakta
Hal-hal lain yang harus dihindarkan dalam penulisan karangan (ilmiah):
1.      Subjektivitas
2.      pembuktian pendapat tidak mencukupi

3.       Kesimpulan
Kesimpulan atau simpulan merupakan bagian terakhir atau penutup dari isi karangan dan juga merupakan bagian terpenting sebuah karangan ilmiah.pembaca yang tidak memiliki cukup waktu untuk membaca naskah seutuhnya cenderung akan membaca bagian-bagian penting saja, antara lain kesimpulan. Oleh karena itu, kesimpulan harus disusun sebaik mungkin. Kesimpulan harus dirumuskan dengan tegas sebagai suatu pendapat pengarang atau penulis terhadap masalah yang telah diuraikan.

Penulis dapat merumuskan kesimpulannya dengan dua cara:
1.      Dalam tulisan-tulisan yang bersifat argumentatif, dapat dibuat ringkasan-ringkasan argumen yang penting yang sejalan dengan perkembangan dalam tubuh karangan itu.
2.      Untuk kesimpulan-kesimpulan biasa, cukup disarikan tujuan atau isi yang umum dari pokok-pokok yang telah diuraikan dalam tubuh karangan itu.


Bagian Pelengkap Penutup

1.       Daftar Pustaka (Bibliografi)
Setiap karangan ilmiah harus menggunakan data pustaka atau catatan kaki dan dilengkapi dengan daftar bacaan. Daftar pustaka atatu Bibliografi adalah daftar yang berisi judul buku, artikel, dan bahan penerbitan lainnya yang mempunyai pertalian dengan sebuah atau sebagian karangan.
Unsur-unsur daftar pustaka meliputi :
·         Nama pengarang ; penulisannya dibalik dengan menggunakan koma.
·         Tahun terbit.
·         Judul buku ; penulisannya bercetak miring.
·         Data publikasi, meliputi tempat / kota terbit dan penerbit.
·         Untuk sebuah artikel diperlukan pula judul artikel, nama majalah, jilid, nomor, dan tahun terbit.
Keterangan:
·         Jika buku itu disusun oleh dua pengarang, nama pengarang kedua tidak perlu dibalik.
·          Jika buku itu disusun oleh lembaga, nama lembaga itu yang dipakai untuk menggantikan nama pengarang.
·          Jika buku itu merupakan editorial (bunga rampai), nama editor yang dipakai dan di belakangnya diberi keterangan ed. ‘editor’
·          Nama gelar pengarang lazimnya tidak dituliskan.
·          Daftar pustaka disusun secara alfabetis berdasarkan urutan huruf awal nama belakang pengarang.

2.       Lampiran data (Apendix)
Lampiran data atau appendix merupakan suatu bagian pelengkap yang fungsinya terkadang tumpang tindih dengan catatan kaki. Bila penulis ingin memasukkan suatu bahan informasi secara panjang lebar, atau sesuatu informasi yang baru, maka dapat dimasukkan dalam lampiran ini. Lampiran ini dapat berupa essai, cerita, daftar nama, model analisis, dan lain-lan. Lampiran ini disertakan sebagai bagian dari pembuktian ilmiah.penyajian dalam bentuk lampiran agar tidak mengganggu pembahasan jika disertakan dalam uraian.

3.       Indeks
Indeks atau daftar kata atau yang digunakan dalam uraian dan disusun secara alfabetis (urut abjad). Penulisan indeks disertai nomor halaman yang mencantumkan penggunaan istilah tersebut. Indeks berfungsi untuk memudahkan pencarian kata dan penggunaannya dalam pembahasan.

4.       Riwayat hidup penulis
Buku, skripsi, tesis, disertasi perlu disertai daftar riwayat hidup. Dalam skripsi menuntut daftar riwayat hidup lebih lengkap. Daftar riwayat hidup merupakan gambaran kehidupa penulis atau pengarang. Daftar riwayat hidup meliputi :
·         nama penulis
·         tempat tanggal lahir
·         pendidikan
·         pengalaman berorganisasi atau pekerjaan
·         juga karya-karya yang telah dihasilkan penulis


Daftar Pustaka :